Ada 'asma' dalam kata 'asmara'. Tak heran sesak nafas rasanya kalau punya masalah seputar percintaan dan kehidupan. Miund hadir untuk berbagi cerita dan menjawab pertanyaan Anda tentang segala hal yang berhubungan dengan hati, dengan ringan dan penuh canda. Yuk ngobrol santai soal asmara dengan Miund sekarang!

Saat “Mbak” Menjadi “Ibu”

Siapa di sini yang suka merengut tiap ada yang menyapa dengan sebutan “Ibu”?

 

Satu, dua, dua ratus ribu… wah banyak ya.

 

Mungkin bukan nggak suka ya, tapi lebih kapada: “EMANGNYA GUE SETUA ITU UDAH DIPANGGIL IBU?”  Iya kan?  Ngaku deh.

 

Sulit memang menghilangkan imaji ‘berumur’ saat kita dipanggil ‘Ibu’ di usia yang baru kepala dua.  Wong yang masuk kepala tiga aja kadang masih suka tersinggung kok.  Tapi coba deh dilihat dari sisi budaya.  Ada nggak di antara Anda yang berpikir bahwa panggilan “Ibu” itu adalah sebuah tanda respek yang mendalam dari mereka yang menggunakannya?

 

Bergesernya zaman membuat wanita muda mulai dipanggil dengan ‘Zus’ atau ‘Sis’.  Keduanya punya makna yang sama dengan ‘Mbak’ atau ‘Kakak Perempuan’.  Untuk yang agak lebih dewasa, panggilan Ibu juga mulai menghilang dan dipanggil ‘Tante’ bahkan ‘Aunty’ di kesempatan informal.  Rasanya panggilan ‘Ibu’ atau ‘Bu’ cuma berlaku di rumah atau di kantor dan merujuk kepada orang yang melahirkan kita atau menggaji kita.

 

Nggak ada yang salah sih dari ini semua.  Sekarang jika kita menyapa tetangga dengan ‘Bu Djoko’ tentunya rasanya seperti di buku-buku Bahasa Indonesia.  Sedangkan menyapanya dengan ‘Tante Tutik’ terdengar lebih akrab dan bersahabat, walau tak menyebutkan nama Pak Djoko sebagai suaminya.  

 

Dan ketika kita bergaul dengan orang bule, ini berubah.  Jarang Anda bisa memanggil Liz Johnson dengan Auntie Liz kecuali Anda keponakannya langsung.  Jika ia hanya ‘kenalan’ Anda, maka yang lazim adalah menyapanya dengan Miss atau Missus Johnson.  Betul, bukan?

 

Tapi lain padang lain belalang.  Mari kembali ke panggilan “Ibu” yang tampak amat menyinggung beberapa orang karena identik dengan panggilan untuk perempuan berumur.  Saya pun pernah melalui masa-masa di mana saya suka bete kalau ada orang menyapa saya dengan “Bu”.  Biasanya kalau habis belanja di supermarket, si kasir menyerahkan uang kembalian sambil berkata, “Makasih, Bu.”  Ih rasanya bener-bener pengen jambak dia sambil bilang, “Heh, saya belum ibu-ibu!”

 

Kalau sekarang saya menengok ke belakang, jujur saya agak sebal sama pemikiran saya waktu itu.  Soalnya, lalu kenapa kalau saya belum ibu-ibu?  Panggilan ‘ibu’ yang dilontarkan orang asing yang nggak kenal saya itu jauh lebih respectful dibanding ‘tante’ yang sering dikonotasikan negatif (ini juga entah mengapa, mungkin karena ada istilah ‘Tante Girang’).   Lebih sopan juga jika dibandingkan dengan panggilan “Heh!” atau “Woy!”, bukan?

 

Seperti pernah saya tulis di kolom ini juga, bahwa surga adanya di telapak kaki ibu.  Lalu mengapa kita tak mau disamakan dengan manusia berderajat semulia itu?

 

Ini aneh bagi saya.

 

Bukan lagi lebay, tapi mari pikirkan bersama.  Ibu adalah figur penting dalam masyarakat.  Kalau nggak ada ibu, nggak akan ada kita, ya kan?  Kalau dipikir lebih jauh lagi, saat ini banyak yummy mommy yang mulai merajai taman-taman bermain menemani anak-anak mereka.  Berapa sih rata-rata usia para mamah muda ini?  Mungkin dari 22 sampai 35 tahun ya.  Modis, cantik, wangi, berpendidikan tinggi dan bertutur kata sempurna.

 

Apakah ini membuat mereka jadi ada di luar kategori “ibu”?  Rasanya enggak ya.

 

Menurut saya, ini semua salah ilmu persepsi yang diajarkan pada kita sejak kecil.  Ingat kasus yang sempat beredar luas di internet soal pilihan berganda yang ada gambar ibu-ibu bersanggul menggendong anak kecil dan pertanyaannya berbunyi: “Ini adalah contoh kasih sayang seorang _____”?  Ingat pilihan jawabannya?  A. Ibu, B. Guru, C. Pembantu dan si anak mencontreng huruf C… dan jawabannya SALAH?

 

Kenapa salah?

 

Tak bolehkah jika ibu si anak tidak berpenampilan seperti ibu yang digambarkan di soal tersebut?  Dan apakah ini sebenarnya salah satu sebab mengapa kita, perempuan modern, ogah disapa dengan ‘ibu’ bahkan setelah kita menikah?  Karena citra ‘ibu’ yang seolah tak mau move on dari sanggul dan kebaya?

 

Mungkin sekali.  Hayo para pendidik, apa ini tandanya buku-buku cetak harus mulai diperbaharui? *nyengir*

 

Melalui tulisan ini, saya ingin mengajak Anda, perempuan cerdas di mana saja berada untuk tidak lebih memberi citra negatif pada sapaan “ibu”.  Mari mulai dari diri sendiri dan stop menggunakan kata-kata serupa: “Ih dandanan gue kok kaya ibu-ibu ya?”  Gantilah dengan “Ih dandanan gue kok bikin gue kelihatan lebih tua ya?”  Karena dandanan ‘ibu-ibu’ yang Anda maksud memang lebih mudah dilontarkan, tapi penerimaannya jadi negatif dan ini menyebabkan Anda mudah tersinggung bila ada yang baik sengaja maupun tidak menyapa Anda dengan panggilan “Bu.”

 

Terimalah, kita perempuan, kodrat kita adalah menjadi seorang ibu walau di zaman modern ini hal itu termasuk pilihan, bukan keharusan.  Jadi, anggaplah sapaan ibu sebagai pujian dan penyampaian rasa respek yang diberikan orang kepada Anda.


-Miund-

 

share :

Cinta

dengan segala masalahnya

Mari ngobrol bersama Miund: blogger, twitter junkie, stand-up comedienne dan penyiar Motion Radio 97.5 FM Jakarta yang akan mencoba menjawab masalah asmara Anda.

Curhat

Punya pertanyaan seputar masalah asmara. Silakan curahkan hati kamu di sini

Nama No. Telp Gender
Tgl. Lahir
Provinsi - Kota
Provinsi
Pertanyaan